Jumat, 21 November 2014

Petualangan di Phuket

Sebenarnya ingin menulis sejenak tentang petualangan mencapai 14 November 2014. Tapi tulisan tentang honeymoon (19-23 November) mendahului.. Hihihi.

Mengejar Matahari di Phuket //

Perjalanan ke Thailand, Phuket tepatnya sebenarnya tidak masuk ke list saya tahun ini. Apalagi, Juli lalu saya baru saja mengunjungi Eropa. Tapi, ketertarikan pada Thailand muncul saat berbincang dengan beberapa rekan yang baru menghabiskan liburan musim panas di Bangkok dan Pattaya. Dibulatkanlah tekad mengunjungi Phuket (bukan Bangkok atau Pattaya) saat bulan madu.
Awalnya sempat ragu, secara November masuk musim hujan. Tapi, tekad sudah bulat, diikuti dengan keengganan ber-honeymoon di Bali, maka mulailah browsing all about Phuket.
Saya memulai dengan mencari tiket sejak akhir September. AirAsia jadi objek saya. Selain paling murah, maskapai ini juga satu-satunya yang menyediakan penerbangan langsung. Saat itu saya lihat harga tiketnya Rp3,1 juta untuk dua orang PP. Wow! Muraaahh... Sayang, calon suami (yang sekarang sudah jadi suami saya) belum punya passpor, tiketnya belom dibooking. Diundur terus, sampai akhirnya baru bisa beli tiket H-9 sebelum hari keberangkatan. Harganya juga sudah beda. Rp4,6 juta. Tapi tak apalah. Kami pun memilih memesan hotel via travel Manado. Dan dapatlah hotel bintang tiga seharga Rp2,6 juta selama empat malam lima hari.

Tiba di hari keberangkatan, saya dan suami memilih penerbangan pagi dari Manado. Jadi menunggu sekitar 8 jam di CGK.

Menariknya pelayanan AirAsia tak semurah harga tiketnya. Pertama kali menggunakan maskapai ini, langsung jatuh cinta. Empat jam sebelum boarding, saya dan suami cepat-cepat check in. Senangnya, kita bisa check in dengan mesin yang ada di samping pintu masuk Terminal 3 dan langsung dapet kursi di deretan 6. Sesampainya di pesawat, sungguh jauh dari perkiraan saya yang membayangkan, dengan harga segitu pasti pelayanannya ga seberapa. Eh. Salah.

Nah, turun pesawat, landasannya agak basah. Sebelumnya saat masih di udara, pilot bilang Phuket lagi hujan. Tiba di Terminal, ramai sekali dengan bule. Di imigrasi saja kita harus antri sekira setengah jam, padahal loket yang dibuka cukup banyak. Ternyata, di Phuket lagi ada iven, Asian Beach Games 2014.

Saat mau keluar dari Terminal, kami di hadang dengan tawaran taxi, minivan hingga tur. Berbekal ilmu yang didapat di Paman Google, kami tidak sembarangan menerima tawaran. Kalkulator pun siap di tangan untuk menghitung bath per bath yang mau dikeluarkan. Maka, pilihan kita jatuh ke taxi yang siap mengantar hingga ke hotel seharga 800 Bath. Mini vam ditawari 180 bath per orang tapi harus menunggu full bari bisa jalan. Oia, kalau mau menukar uang disarankan tukar Rupiah ke Bath sedari di Indonesia.

Sebelum ngambil taxi, kami mampir di salah satu travel di depan airport. Wah. Tawarannya menggiurkan. 2.500 Bath untuk tur ke Phi Phi Island dan James Bond Island (dua hari) atau USD 157. Tapi karena terlanjur pesen taxi, dan si supir minta buru2, tawarannya diurungkan.

Ternyata ada maksud si supir taxi. Dia mengantar kami ke travel agent milik perusahaannya. Di sana harganya lebih mahal. 7.500 bath ke Phi Phi and James Bond Island. Hah? Kami otomatis ga mau. Patokannya 2.500 bath per orang.

Kami pilih balik ke taxi. Eh, ga tau gimana-gimana, si pegawai travel mendatangi taxi kami dan mengiyakan penawaran awal, 2.500 bath per orang atau 160 USD (karena kebetulan kami ga punya bath lagi). Done!

Kami di antar ke hotel yang sdh dibooking. Hiks. Sempat terkejut. Beda sama yang digambar. Tapi sdh trlanjur, biarlah. Malam ini kami pilih istirahat, menyediakan tenaga utk James Bond Island­čśä

Kamis, 23 Oktober 2014

22 Hari Lagi

Sekira 2005 lalu saya pernah menjawab pertanyaan seseorang, kapan kamu akan menikah.
ketika itu saya masih duduk di bangku kuliah tahun pertama, yang belum sedikitpun tergambar, terencana di usia berapa saya akan menikah. Enteng dengan sedikit bercanda saya menjawab, 14 April 2014. Tepat di usia saya ke-27. Sekali lagi itu bukan sebuah rencana, tapi hanya jawaban 'asal' yang tak keluar dari hati.
Tapi, ketika membuka tahun ini, rencana saya yang masuk di list teratas adalah menikah. Menikah dengan seorang pria yang sudah sejak 16 Desember 2009 lalu menjadi kekasih saya.
Rencana ini awalnya (menurut saya) sangat tidak mungkin. Mengingat masih ada halangan dari orang tua. Namun entah mengapa, perjuangan hampir lima tahun (yang saya rasa), menguatkan bahkan memberi keyakinan.

Kita memilih awalnya tanggal 1 Juni 2014; sesuai dengan tanggal lahir kita berdua (16 dan 14). Rencana ini kemudian batal dan dihiasi dengan air mata. Tapi benarlah kata Tuhan. Setiap rencana-Nya untuk kita manusia sesungguhnya semua baik.

Keinginan untuk menikah bukan batal tapi ditunda November yang sejak hari ini tinggal 22 hari lagi.

Sekian.
23 Oktober 2014

Rabu, 22 Oktober 2014

Alfa

Sebenarnya sudah sejak kecil hobi menulis. Jelang SMP makin sering menulis walaupun hanya lewat buku harian. Saat SMA, mulai malas. Tapi di umur itulah saya punya keinginan 'mangkir' dari cita-cita kecil menjadi guru. Melepas SMA saya mulai tertarik dengan ilmu jurnalistik yang akhirnya membawa saya ke salah satu fakultas di Unsrat yang menyediakan jurusan itu.

Belom siap (sebenarnya) berada di dunia jurnalis, saya sudah berada bersama para senior dan bergabung dengan salah satu media besar di Manado sembari menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa.

2014 menjadi tahun kelima saya bekerja sebagai jurnalis. Setiap hari harus menulis. Jadi menulis bukan hobi lagi, tapi kewajiban bahkan mata pencaharian.

Namun kalau mau diingat, saya sejatinya berhenti menulis sejak lima tahun lalu.

Sekarang, saya rindu menjadikan kembali menulis sebagai hobi.

Maka ini menjadi tulisan pertama saya di blog baru (entah sudah berapa blog yang saya buat), sesuia dengan judul tulisan ini, ALFA.

Saya ingin sedikit bercerita tentang beberapa peristiwa yang mungkin bisa jadi bacaan ringan mereka yang di luar sana (kecuali tulisan saya sebagai jurnalis tentunya)..


Manado, 22 Oktober 2014
GEL